Masuk

Ingat Saya

Prasangka

“People fear what they don’t understand.”

Sadar atau tidak, kita cenderung merasa tidak nyaman pada sesuatu yang tidak kita pahami, sehingga secara alami kita akan menjauhi, menghindari, atau memilih untuk membenci hal tersebut. Ini akan meracuni segala aspek kehidupan kita, termasuk dalam kehidupan bersosialisasi dimana kita akan cenderung membatasi pergaulan kita hanya pada orang-orang yang serupa—karena kita merasa mengenal dan memahami mereka—dan cenderung menjauhi mereka yang tidak kita pahami.

Tindakan saling “mengkotak-kotakkan” ini ada dimana saja, termasuk di nusantara yang memiliki keberagaman sebagai esensinya. Mengapa? Tak lain karena banyak yang masih saling menyimpan prasangka yang kemudian berujung pada konflik antar umat beragama, diwarnai dengan saling caci agama masing-masing. Padahal agama tidak salah. Hanya pemeluknya yang salah memahami. Agama telah jelas mengajarkan toleransi.

Ya, agama tidak salah, hanya pemeluknya yang salah memahami. Mereka yang memahami agama secara radikal, para teroris yang mencatut nama agama dan mengaku “berjuang di jalan Allah” padahal memiliki agenda tersembunyi dibaliknya, mereka berhasil membuat mayoritas publik yang tidak memahami percaya bahwa mereka mewakili kelompok-kelompok tertentu. Publik yang tidak mengerti kemudian menyematkan berbagai stereotip negatif pada kelompok-kelompok tertentu tersebut.

Sudah kodratnya manusia untuk berprasangka pada yang berbeda. Maka untuk menghindari perpecahan, prasangka-prasangka itu sebaiknya dibicarakan, diklarifikasikan, dalam dialog-dialog damai yang menentramkan. Jika itu dilakukan, kita bisa melihat bahwa kita memang berbeda. Tetapi itu bukanlah penghalang untuk saling mengenal dan memahami serta hidup dalam damai. Karena, ya, kita berbeda. Tetapi, pada hakikatnya, bukankah kita sama-sama manusia? Kita sama-sama telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk meniti scenario kehidupan. Tuhan menciptakan bumi untuk hunian sesama manusia, bukan untuk sebagian manusia, Tuhan telah memberi kita hak yang sama. Lalu kenapa harus ada prasangka? Kenapa harus ada benci yang bahkan bisa berujung pada torehan luka? Tuhan mengajarkan untuk saling mengerti, mengasihi dan memahami, juga menjauhkan diri dari prasangka dan rasa benci. Karena untuk hidup dalam damai dan bahagia kita harus menebar kasih dan bukannya prasangka.

 

 

Dengan